Loading...

Prodi IAT UIN Raden Mas Said Surakarta Gelar Pembekalan PPL, Bahas Relasi Al-Qur'an, Kecerdasan Buatan, dan Generasi Z

Diterbitkan pada
31 Agustus 2026 13:53 WIB

Baca

Surakarta, 31 Agustus 2026 — Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) IAT 2026 pada Senin pagi (31/8) di Aula Gedung Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) lantai 2. Kegiatan yang berlangsung pagi ini diikuti oleh 90 peserta dan menghadirkan Dr. Abdul Hakim, M.Si., dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Jakarta, sebagai narasumber.

 

Acara ini mengusung tema besar "Al-Qur'an, Kecerdasan Buatan, dan Gen-Z". Pembekalan ini bertujuan mempersiapkan mahasiswa yang akan melaksanakan PPL agar memiliki landasan keilmuan yang kokoh sekaligus mampu bersikap kritis terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Acara dibuka oleh Ari Hikmawati selaku Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang menekankan kepada mahasiswa agar memanfaatkan PPL sebagai kesempatan emas dalam mempelajari ilmu di lapangan yang sekaligus didampingi oleh para pakar sekaligus praktisi di PSQ. Acara ini dipandu oleh Siti Mursyida, M.Ag., alumni IAT yang saat ini juga menjadi salah satu tenaga pendidik di FUD.

Di sela materi yang disampaikan, narasumber mengajak mahasiswa untuk menghayati kembali semangat tafaqquh fiddin, yakni kesungguhan mendalami dan menghayati ilmu-ilmu keislaman secara komprehensif. Ia memaparkan klaster keilmuan mulai dari 'aliman, muta'alliman, mustami'an, hingga muhibban, dan menegaskan posisi mahasiswa IAT sebagai bagian dari kalangan terpelajar Islam yang perlu memanfaatkan kesempatan studi sebaik mungkin. Narasumber juga menguraikan konsep the unity of science yang meliputi integrasi, interkoneksi, dan reintegrasi keilmuan Islam serta pentingnya wawasan iptek yang berimbang dengan penguatan iman dan takwa. Dua jalur transmisi ilmu dalam Islam, yaitu ilmu khuduri dan ilmu kasbi turut menjadi sorotan sebagai fondasi tradisi keilmuan mahasiswa.

Menyinggung isu kecerdasan buatan, Dr. Abdul Hakim mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi pengguna pasif teknologi, melainkan turut mewarnai AI dengan hasil pemikiran dan tulisan sendiri. Ia menekankan pentingnya sikap akomodatif sekaligus kritis, memperkuat tradisi keilmuan berupa membaca, menulis, dan berdiskusi, serta menempatkan AI sebagai alat bantu muraja'ah keilmuan dan bukan sumber kebenaran mutlak. Poin ini juga tampak dalam sesi tanya jawab. Menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai penggunaan AI dalam penafsiran Al-Qur'an, narasumber menegaskan perlunya sikap kritis dengan menguji petik pernyataan yang dihasilkan AI, dan tidak menggunakannya apabila ditemukan kekeliruan.

Isu penyeimbangan bias informasi global juga dibahas melalui pertanyaan mengenai posisi tafsir Nusantara beraksara Pegon di tengah dominasi data AI global. Narasumber mendorong mahasiswa untuk aktif mengisi ruang kosong basis data AI dengan karya-karya tafsir Nusantara, sejalan dengan pepatah yang disampaikannya, "membaca dunia kemudian dibaca dunia".

Kegiatan ditutup dengan pesan agar mahasiswa IAT mampu mengintegrasikan keilmuan Islam dengan perkembangan iptek tanpa kehilangan landasan iman dan tradisi keilmuan. Prodi IAT berharap, melalui pembekalan ini, mahasiswa yang akan menjalani PPL memiliki bekal akademik dan sikap kritis yang memadai, sekaligus mampu berkontribusi mengembangkan khazanah tafsir Nusantara sebagai bagian dari tanggung jawab akademik dan keumatan.