Surakarta, 1 September 2026 — Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan Pembekalan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) IAT 2026 pada Selasa (1/9), bertempat di Aula Gedung Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) lantai 2. Kegiatan yang diikuti 90 mahasiswa ini menghadirkan Mubaidi Sulaeman, M.Ag., dosen IAT UIT Lirboyo, sebagai narasumber, dengan tema "Localizing the Machine: Tafsir Nusantara sebagai Penyeimbang Bias Global AI".

Pembekalan ini menjadi bagian dari persiapan mahasiswa semester akhir yang akan melaksanakan KKL di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) sebagai bagian dari aktifitas menambah pengalaman lapangan dan pengumpulan data untuk tugas akhir. Acara ini dibuka oleh Fathonah selaku Sekretaris Prodi IAT dengan menyampaikan bahwa pengarusutamaan topik seputar riset dalam skup Tafsir dan AI telah dimulai IAT sejak 2024 dan GenZ menjadi variabel baru yang harus dipertimbangkan sebab ketergantungannya yang cukup tinggi kepada dunia digital. Selain itu Fathonah juga menyampaikan bahwa LPMQ memiliki banyak pakar tafsir sehingga mahasiswa berpeluang memiliki kesempatan bagus untuk mendiskusikan persoalan Tafsir, AI dan GenZ di sana. Pembekalan ini dipandu oleh moderator Anis Maisya, M.Ag yang diambil prodi IAT dari unsur alumni.
Narasumber menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi berkah sekaligus musibah, tergantung cara penggunaannya. Ia mempertanyakan siapa yang sesungguhnya memegang otoritas keilmuan saat ini, serta mengingatkan bahwa fenomena AI hari ini tidak sekadar memotong ayat dari konteksnya, tetapi juga memotong otoritas keilmuan itu sendiri. Menurutnya, AI tidak bekerja secara netral. Sistem ini hanya menjawab berdasarkan data digital yang paling sering diakses dan dikutip di internet, sehingga kerap gagal menjawab pertanyaan yang spesifik dengan jawaban yang justru terlalu umum. Ia memaparkan tiga jenis kekeliruan AI dalam penafsiran, yakni kesalahan membingkai konsep, sitasi yang tidak dapat diverifikasi atau bahkan fiktif, serta penambahan nama tokoh yang sebenarnya tidak terdapat dalam sumber asli. "AI memberi informasi, sedangkan peneliti yang memberikan verifikasi, konteks, dan interpretasi," demikian salah satu poin penekanan narasumber, seraya menambahkan bahwa AI tidak memiliki kemampuan metakognitif untuk mengoreksi pemahamannya sendiri maupun kepekaan rasa yang mampu berkesan bagi pembacanya.
Sebagai jawaban atas bias tersebut, narasumber memperkenalkan konsep localizing the machine sebagai upaya memastikan jawaban AI tidak hanya bertumpu pada data global, tetapi juga mempertimbangkan khazanah keilmuan lokal. Upaya ini mencakup penghadiran data lokal, pengakuan bahasa dan istilah lokal, pemahaman konteks sejarah-sosial-budaya-keagamaan, perhatian terhadap sanad dan otoritas keilmuan, hingga pengujian jawaban AI dengan standar akademik keislaman. Dalam konteks ini, tafsir Nusantara diposisikan sebagai pengetahuan yang lahir dari pertemuan antara kajian Al-Qur'an dengan tradisi tafsir, bahasa, budaya, sejarah, dan pengalaman sosial masyarakat setempat sumber keilmuan lokal yang dinilai penting untuk memperkaya data dan menyeimbangkan dominasi bias global AI.

Prodi IAT Gelar Coaching Clinic, Dampingi 20 Mahasiswa Percepat Kelulusan
5 hari yang lalu - Kegiatan Terbaru