
Pattani, Thailand — Tiga hari, empat warna, dan satu pengalaman yang meninggalkan cerita. Itulah suasana yang terasa dalam Sukan Warna 2026 di Songserm Islam Soksa School, Pattani, Thailand Selatan (25–27/8). Di tengah riuh pertandingan, parade, dan yel-yel siswa, mahasiswa KKN Internasional Indonesia turut mengambil bagian dan membawa warna Indonesia ke dalam kegiatan tahunan tersebut. Sukan Warna, atau yang dikenal sebagai Kila Si, merupakan kegiatan tahunan sekolah yang memadukan olahraga, kreativitas, kekompakan, dan budaya. Tahun ini, kegiatan kembali digelar dengan meriah setelah tahun sebelumnya tidak terlaksana secara maksimal karena kabar duka atas wafatnya Abuya. Persiapan bahkan telah dilakukan sejak sekitar satu bulan sebelumnya, mulai dari pembuatan yel-yel, properti parade, hingga latihan berbagai perlombaan.
Kegiatan dibuka pada 25 Agustus 2026 dengan dihadiri pihak Dinas Pendidikan dan Kementerian Pendidikan Swasta Islam daerah, pemegang lisensi sekolah Kholi Nang, serta Kepala Songserm Islam Soksa School, To’ Nik. Dalam pembukaan tersebut, Mahsuna Aulia Anggraini, mahasiswa KKN Internasional Indonesia, dipercaya menjadi master of ceremony. Tak hanya berada di balik mikrofon, mahasiswa KKN juga membawa budaya Indonesia ke tengah kegiatan. Ans Natswa Tsania Wardhani menampilkan pencak silat di hadapan warga sekolah. Mahasiswa KKN turut membantu persiapan parade serta mendampingi siswa selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Usai pembukaan, parade menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Empat kelompok warna yairu biru, hijau, merah muda, dan ungu. Warna tersebut menampilkan kreativitas masing-masing. Keempat warna tersebut merepresentasikan empat provinsi di Thailand Selatan, yaitu Pattani, Yala, Narathiwat, dan Songkhla. Menariknya, parade tidak hanya menampilkan identitas budaya Thailand Selatan. Para siswa mengenakan berbagai pakaian tradisional, seperti pakaian Melayu dan Siam, bahkan terdapat siswa yang mengenakan pakaian adat Jawa. Di tengah suasana Sukan Warna, pakaian adat Jawa tersebut menjadi salah satu bentuk sederhana dari perjumpaan budaya Indonesia dan Thailand yang terjadi secara langsung di lingkungan sekolah.
Hari kedua, 26 Agustus, diisi dengan berbagai perlombaan. Mulai dari yel-yel yang dikenal sebagai cak dan kilasi, bola voli, sepak bola, bola tangan, hingga permainan ketangkasan. Setiap kelompok berusaha menunjukkan kemampuan sekaligus kekompakan mereka. Sorak-sorai dan yel-yel dari masing-masing warna membuat suasana sekolah semakin semarak. Hari ketiga menjadi penutup rangkaian Sukan Warna 2026 melalui pengumuman para pemenang. Namun, bagi mahasiswa KKN Internasional Indonesia, kegiatan ini meninggalkan lebih dari sekadar hasil perlombaan. Keterlibatan sebagai MC, penampilan pencak silat, membantu persiapan parade, serta mendampingi siswa menjadi bagian dari kontribusi selama menjalankan kegiatan di Songserm Islam Soksa School.
Red. Lia
Tiga hari telah berlalu, empat warna telah berkompetisi, dan satu cerita telah tercipta. Sukan Warna 2026 menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan olahraga, kreativitas, kebersamaan, dan budaya. Bagi mahasiswa KKN Indonesia, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk tidak hanya hadir sebagai bagian dari sekolah, tetapi juga ikut mengambil peran dan meninggalkan warna Indonesia di Pattani.
Prodi IAT Gelar Coaching Clinic, Dampingi 20 Mahasiswa Percepat Kelulusan
5 hari yang lalu - Kegiatan Terbaru